TERNAKHIAS.COM - Ada beberapa sebutan untuk ayam jenis ini selain di Indonesia sendiri dengan sebutan Ayam Hutan Hijau atau Green Junglefowl yang diluar disebut Gallus Varius, seperti namanya sendiri ayam ini sangat mengindonesia sekali dikarenakan ayam ini salah satu dari dua spesies ayam hutan asli Indonesia selain Ayam Hutan Merah dengan sebutah (Gallus gallus). Bahkan Ayam Hutan Hijau merupakan hewan endemik Indonesia yang tersebar cuma ada di pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara saja. Perlu diketahui ayam bekisar yang mempunyai bulu indah sekaligus kokok atau suara yang khas merupakan dari hasil persilangan antara Ayam Kampung dengan Ayam Hutan Hijau. Ayam Bekisar sendiri merupakan fauna identitas yang berada dari provinsi Jawa Timur. Ayam Hutan Hijau sering dinamakan dengan beragam nama di beberapa daerah bagian Indonesia disebut sebagai Canghegar atau Cangehgar dalam bahasa Sunda, Ayam Alas dalam bahasa Jawa, dan Ajem Allas atau Tarattah dalam bahasa Madura. Beberapa penyebutan nama ini memang sama dengan penyebutan untuk jenis Ayam Hutan Merah. Selain nama yang disebutkan sebelumnya untuk orang luar Indonesia sendiri memberikan nama tersendiri yang di dalam bahasa Inggris untuk ayam hutan hijau ada yang menyebut dengan sebutan Green Junglefowl, Javan Junglefowl, Forktail, atau Green Javanese Junglefowl. Sedangkan Gallus varius diambil dari bahasa latin (ilmiah). Ayam Hutan Hijau sendiri dikatakan sejenis burung yang termasuk kelompok unggas dari suku Phasianidae, yakni keluarga ayam, puyuh, merak, dan sempidan. Ayam hutan diyakini sebagai nenek moyang sebagian ayam peliharaan yang berada di Nusantara.
Sejarahnya sendiri sebenarnya tidak terlalu diketahui , akan tetapi diyakini nama ilmiah Gallus varius ditemukan pada tahun 1798 dimana ayam ini merujuk pada warna dan asal mula tempatnya berada. Dimana ayam jenis ini lebih menyukai kawasan membuka seperti padang rumput yang luas, di tepi hutan dan kawasan dengan bukit-bukit rendah yang berdekatan dengan pantai. Ayam Hutan Hijau diketahui sangat terbatas dalam penyebarannya di bagian pulau Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara termasuk Bali. Di Jawa Barat terakhir tercatat hidup hingga ketinggian 1.500 m dpl, di Jawa Timur hingga 3.000 m dpl dan di Lombok hingga 2.400 m dpl. Ayam Hutan Hijau biasanya mencari konsumsi di tempat-tempat terbuka dan berumput sekitar waktu pagi dan sore, sedangkan pada siang hari ayam akan berlindung di bawah pohon yang rindang atau di dalam hutan untuk menghindari panas terik. Ayam hutan hijau dapat berkembangbiak dalam waktu bulan Oktober sampai November di Jawa Barat dan sekitar Maret sampai Juli di Jawa Timur. Bahkan untuk sarang sendiri dibikin secara sederhana di atas tanah berikat rumput, dalam lindungan semak atau rumput tinggi. Telur yang dihasilkan pun 3-4 butir berwarna keputih-putihan.
Ayam Hutan Hijau tidak sama seperti keturunannya ayam kampung yang biasa kita lihat, ayam hutan hijau sangat pandai terbang layaknya seperti burung. Terutama untuk anak ayam hutan hijau ini telah mampu terbang saat menghindari bahaya walaupun tidak terbang bebas. Ayam Hutan Hijau yang sudah matang atau dewasa biasa mampu terbang vertikal ke cabang pohon di dekatnya pada ketinggian 7 m atau bisa mencapai ketinggian yang lebih. Terbang mendatar, ayam hutan hijau mampu terbang lurus hingga jarak beberapa ratus meter, bahkan diyakini mampu terbang dari pulau ke pulau yang berdekatan saat melintasi laut. Ayam hutan hijau yang jantan dapat berkokok dengan suara yang khas atau nyaring sengau saat pagi dan petang hari. Yang bermula saat bersuara cek-kreh.. lalu lanjut bersambung beberapa kali seperti suara bersin, diikuti dengan bunyi cek-ki kreh.. sebanyak 10 sampai 15 kali, dengan hentian waktu hingga belasan detik, semakin lama semakin panjang hentiannya. Biasanya ayam hutan hijau saat berkokok akan segera diikuti atau disambut oleh satu atau beberapa jantan yang lainnya. Ayam betina berkotek mirip ayam kampung, dengan suara yang bertambah kecil-nyaring, di pagi hari ketika akan keluar tempat tidurnya.
Termasuk Hewan Langka
Spesies unggas ayam hutan hijau saat ini sudah mulai sulit ditemui keberadaannya atau termasuk hewan langka yang dapat dijumpai diduga akibat ulah para pemburu liar. Oleh karena itu diadakan sebuah komunitas Pecinta Ayam Hutan Hijau Kabupaten Gunungkidul yang telah hadir untuk melakukan upaya pelestarian hewan asli Indonesia ini. Saat diketahui bahwa komunitas ini diketuai oleh Danang, warga Padukuhan Kernen, Kelurahan Ngunut, Kapanewon Playen, yang didirikan sejak 2020. Komunitas mulai aktif melakukan kegiatan pelestarian ayam hutan hijau dengan upaya memberikan informasi dalam sebuah kampanye pelarangan kegiatan berburu, khususnya di wilayah Kabupaten Gunungkidul.
Dalam pertemuan rutin yang dilakukan sebulan sekali, komunitas tersebut kerap melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan upaya pelestarian dimana mereka juga membudidayakan ayam hutan hijau ini lalu saat pencapaian siap dilepaskan maka mereka akan melakukan pelepasliaran ayam hutan hijau di wilayah hutan Gunungkidul. Selain ini mereka juga berupaya pelestarian lainnya, jika ada telur atau anakan ayam yang ditemukan oleh warga sekitar, komunitas akan bersedia membeli bertujuan untuk nantinya ditetaskan dan dibesarkan yang kemudian akan dilepaskan kembali ke alam bebas. Biasanya orang dari komunitas ini akan membeli dari warga yang menemukan telur dengan harga Rp 50 ribu, kalau untuk anakan sekitar Rp 125 ribu.
Selain upaya untuk melestarikan ayam hutan hijau, hewan unggas dengan suara dan warna yang unik tersebut juga diikutsertakan dalam kegiatan lomba baik dalam tingkat Lokal maupun Nasional. Saat bulan April 2021 kemarin komunitas tersebut telah mengikuti lombakan kontes ayam hutan hijau tingkat Nasional di Jawa Timur. Lalu untuk ayam dewasa yang mendapatkan juara biasanya akan dihargai tinggi. Untuk ayam dewasa yang sudah juara dalam lomba harganya bisa sampai ratusan juta.









Chat via Whatsapp


















